2009-09-16

Merenungi Lebaran

....karena putus asa merupakan langkah dari setan.



Merenungi lebaran, perlu juga diperhatikan persoalan kemiskinan yang tidak pernah lepas dari kehidupan sekitar kita.
Dalam islam, kita mengenali adanya kata fakir dan miskin. Fakir disebutkan sebagai kondisi dimana seseorang sudah dalam posisi putus asa untu berbuat, karena apapun yang dilakukan akan tetap miskin.

Kecenderungan orang seperti ini sudah tidak mau berbuat lagi, sehingga langkah yang dilakukan dengan cara meminta-minta sebagai sebuah budaya.

Sedangkan miskin, merujuk pada kondisi dimana seseorang telah bersusah payah bekerja keras, namun hasil usaha yang dilakukan tidak mampu mencukupi kebutuhannya. Namun orang tersebut tidak berputus asa untuk bekerja, karena putus asa merupakan langkah dari setan.


Kedua kondisi seperti ini tidak lepas dari realitas kehidupan masyarakat kita yang masih jauh dari tingkat kesejahteraan. Begitu banyak pengemis ditemui, menggantungan harapan dari belasan kasihan orang. Terlebih disaat-saat seperti sekarang ini, jelang lebaran mulai bertebaran dimana-mana.

Hanya mengejar uang seperak dua perak, rakyat kecil harus berdesak-desakkan hingga terkadang timbul korban jiwa,hanya untuk mendapatkan sedekah. Hal ini sangat mengiris hati bagi setiap mereka yang masih memiliki hati nurani.

Jika kita melihat kemiskinan masih saja banyak terdapat di masyarakat kita, dilingkungan tempat tinggal kita, maka yang menjadi sasaran adalah pemimpin kita yang tidak becus dalam mengurus.

Untuk itu, yang kita perlukan adalah pemimpin yang mengerti bagaimana mengurus warganya terutama mampu menanggulangi masalah sosial di masyarakat terutama kemiskinan ini.

Juga, dibutuhkan pemimpin yang benar-benar dapat mengayomi dan memiliki rasa kasih sayang terhadap warganya.

Fakir dan miskin tidak boleh diperparah lagi dengan lemahnya kepemimpinan, dan tidak peka terhadap perasaan kasih sayang. Karena bagaimanapun, masalah fakir dan miskin bukan hanya persoaalan nasib, tapi juga dikarenakan oleh pemimpinnya sendiri yang salah dalam mengurus.

Jadi, kemiskinan lebih diarahkan pada persoalan kepekaan, kasih sayang dan perlindungan.

Dalam konteks lebaran, hanya yang punya nurani yang bisa bicara dari hati ke hati dan mampu mendengar apa yang dteriakkan dari sana.

6 comments:

  1. kemiskinan selalu menjadi masalah terutama di negeri kita ini padahal dalam islam sudah diajarkan didalah harta orang kaya terdapat hak orang miskin.

    kalau kita lihat tidak sedikit para saudagar yang beragama islam, tapi kenapa kemiskinan masih merajai...??

    ReplyDelete
  2. hah? udah berapa kali update nih,saya nggak lihat. renungannya mantab bro.Saya follow ya,biar ketahuan kalau update.

    ReplyDelete
  3. bener sob, menjelang lebaran gini banyak banget orang ngemis & rela berdesak2an demi uang 20 ribu sampe ke injek2 segala, cukup menghawatirkan kalo gini terus

    ReplyDelete
  4. Masalah yg tak ada hentinya mas...dilevel bawah ada kemiskinan materi, dilevel atas pun ada kemiskinan moral dan iman.
    Tapi ada juga loh 'aji mumpung' berbalut kemiskinan/kekukarangan..

    ReplyDelete
  5. aku berkunjung kawan....
    masih suasana idul fitri...semoga sehat dan sukses selalu...amin

    ReplyDelete
  6. rizal :
    Pertanyaan yg sulit dijawab bro, coba tanya saja kpd ahli-ahli ekonomi Indonesia yg "konon" hebat katanya, heheheh...

    Mbak Aisya :
    Silahkan sis, trims yak..

    Irvan :
    Lihat saja contoh baru2 ini saat ada gubernur yg bagi2 zakat atau sedekah toh terjadi rusuh, sungguh memilukan ya...

    Om Srex :
    Yg parahnya, udah miskin harta, miskin pula moral dan iman, xixixi naujubile....mksh kunjungan idulfitrinya, mohon maaf lahir dan bathin y Om :)

    ReplyDelete

 
© 2012 Planet Jingga. Natuna Network Natuna | Abrizal.